«

»

Nov 22 2012

Pendekatan CEP (Chemo-entrepreneurship)

Download PDF
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Pada pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya adalah guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan dan ketrampilan) datang dari “menemukan sendiri”, bukan dari “apa kata guru”. Begitulah peran guru pada pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Nurhadi, 2002: 1-2).
Pada penerapan pembelajaran kontekstual di kelas ada 7 komponen yang harus nampak pada kegiatan belajar mengajarnya yaitu: 
  1. Kontruktivisme (Contructivism), Kontruktivisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit dari konteks yang terbatas, siswa membangun sendiri pengetahuan belajar yang bermakna.
  2. Menemukan (Inquiry), Menemukan merupakan suatu rangkaian kegiatan  yang di mulai dari mengamati, bertanya, menganalisis, menemukan konsep. Kegiatan ini mengembangkan dan menggunakan ketrampilan berpikir kritis.
  3. Bertanya (Questioning), Bertanya merupakan awal diperolehnya suatu informasi / pengetahuan. dengan bertanya mulailah proses berpikir. Oleh karena itu siswa harus dibiasakan bertanya maupun menjawab pertanyaan.
  4. Masyarakat Belajar (Learning Community), Pada masyarakat belajar, hasil belajar dapat di peroleh dari kerja sama dengan orang lain. Masyarakat belajar mengandung arti adanya kelompok-kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagai pengalaman dan gagasan serta bekerjasama untuk memecahkan masalah karena hasil kerja kelompok lebih baik daripada kerja individual.
  5. Pemodelan (Modelling), Pemodelan merupakan suatu cara menunjukkan kepada siswa  ”bagaimana cara belajar”. Guru harus menjadi model untuk ditiru oleh siswa dalam melakukan sesuatu.
  6. Refleksi (Reflection), Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru saja dipelajari/dilakukan. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Realisasi dari refleksi dapat berupa jurnal/catatan, diskusi atau pertanyaan langsung..
  7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment), Penilaian yang sebenarnya adalah penilaian yang mengukur semua aspek pembelajaran baik proses, kinerja maupun hasil yang diperoleh, yang di laksanakan selama dan sesudah pembelajaran berlangsung. Penilaian ditekankan pada kedalaman pengetahuan dan keahlian bukan keluasannya (Nurhadi, 2002: 10-19).
Menurut Starcher dalam Supartono (2006a: 4), entrepreneurship berarti seseorang yang melakukan atau mengusahakan suatu proyek atau aktivitas secara signifikan. Sedangkan entrepreneurship dapat dikatakan sebagai inovasi dalam penciptaan nilai-nilai baik ekonomi, sosial dan lainnya
Kimia sebagai sebagai proses dan produk seharusnya mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam meningkatkan kecerdasan siswa. Berbagai gejala atau fenomena alam dapat diketahui dengan belajar kimia. Oleh karena itu, proses belajar kimia dapat dikaitkan langsung dengan berbagai objek yang bermanfaat di sekitar kehidupan manusia. Selain itu kimia dapat juga digunakan sebagai alat untuk mendidik manusia (siswa) agar memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap ilmiah (Karyadi, 2005: 1).
Atas dasar pemikiran di atas, tentunya perlu upaya yang terus menerus untuk mencari dan menemukan pendekatan pembelajaran kimia yang unggul. Suatu pendekatan pembelajaran kimia yang mampu memotivasi siswa untuk belajar dan dapat mengembangkan life skill. Pembelajaran kimia tersebut merupakan pembelajaran kimia yang menarik serta memupuk daya kreasi dan inovasi siswa. Selanjutnya pembelajaran kimia yang demikian dapat disebut sebagai pembelajaran kimia dengan pendekatan Chemo-entrepreneurship (CEP).
Konsep pendekatan CEP adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu dikaitkan dengan objek nyata sehingga selain dididik, siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan menumbuhkan semangat berwirausaha sehingga penggunaan pendekatan CEP pada mata pelajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan siswa untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan suatu produk (Murachman, B, dalam Supartono, 2006b: 3). Akan tetapi inti dari pendekatan CEP bukan membentuk siswa menjadi seorang wirusahawan atau pedagang, tetapi dengan pembelajaran dengan pendekatan CEP diharapkan akan menumbuhkan semangat/jiwa kewirausahaan bagi siswa dalam proses belajar mengajar. Menurut Dabson dalam Sumarni (2007: 3) semangat/jiwa kewirausahaan seseorang tercermin pada berbagai hal misalnya kemampuan, kemandirian (termasuk di dalamnya adalah kegigihan, kerjasama dalam tim, kreativitas dan inovasi).
Pada proses belajar dan mengajar, harus banyak menekankan pada proses belajar mandiri. Tujuan belajar mandiri antara lain berfungsi untuk menumbuhkan kreativitas berfikir, menumbuhkan kepercayaan diri, memberi keterampilan memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan, membiasakan menemukan peluang pada masa depan, menumbuhkan jiwa inovatif dan menumbuhkan sikap berani menanggung resiko. Keseluruhan watak yang telah disebutkan tersebut dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat/jiwa kewirausahaan (dimuat dalam website: http://www. ekofeum.or.id/, 2007).
Pada pembelajaran dengan pendekatan CEP, semangat/jiwa kewirausahaan dapat ditunjukkan oleh beberapa indikator yang dapat dinilai yaitu memiliki rasa ingin tahu, sering mengajukan pertanyaan, memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah, merasa bebas dalam menyatakan pendapat, mencari dan menganalisis data yang diketahui dalam penyelesaian masalah, mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, mempunyai daya imajinasi dan mempunyai ide orisnil dalam mengungkapkan gagasan (Supartono, 2006a: 8).
Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan lingkungan sekitar siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang mereka peroleh dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dengan pendekatan CEP yang merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang kontekstual menjadikan pelajaran kimia lebih menarik, menyenangkan dan lebih bermakna.
Pembelajaran dengan pendekatan CEP ini harus didukung dengan kemampuan berpikir yang memadai yaitu kemampuan generik. Menurut CURVE dalam Sumarni (2007: 20) makna kemampuan generik adalah suatu kemampuan dasar yang bersifat fleksibel, multitugas dan berorientasi kreativitas lebih luas. Kemampuan generik meliputi beberapa kemampuan yaitu :
  1. Pengamatan langsung; yaitu kemampuan dalam mengamati objek secara langsung. Pengamatan langsung dapat diperoleh melalui kejadian sehari-hari dan atau terjadi pada saat melakukan percobaan kimia.
  2. Pengamatan tak langsung, keterbatasan panca indera menyebabkan gejala atau fenomena perilaku alam tidak dapat diamati secara langsung sehingga diperlukan suatu peralatan atau sifat dan gejala yang menunjukkan perilaku suatu zat.
  3. Pemahaman tentang skala; ilmu kimia adalah ilmu berdasarkan percobaan, oleh sebab itu siswa dituntut untuk mampu memahami skala atau ukuran kimia secara benar.
  4. Bahasa simbolik; ilmu kimia sangat kaya akan symbol-simbol yang digunakan untuk berbagai fungsi dan tujuan sebagai bahasa untuk menyatakan suatu besaran secara kuantitatif maupun kualitatif dan sebagai alat untuk mengungkapkan hukum atau prinsip kimia.
  5. Logical frame; yaitu kemampuan untuk berpikir sistematis yang didasarkan pada keteraturan fenomena gejala alam.
  6. Konsistensi logis; yaitu kemampuan mengungkap adanya konsistensi logis mengenai data-data fisik dari beberapa senyawa kimia.
  7. Hukum sebab-akibat; yaitu kemampuan untuk memahami dan menggunakan hukum sebab akibat.
  8. Pemodelan; dalam mempelajari ilmu kimia beberapa materi kimia dipelajari secara abstrak. Misalnya bagaimana membayangkan bentuk atom yang yang ukurannya sangat kecil dan tidak dapat dilihat. Oleh karena itu diperlukan suatu model untuk mempermudah mempelajarinya.
  9. Logical inference; yaitu kemampuan untuk dapat mengambil kesimpulan baru sebagai akibat logis dari hukum-hukum terdahulu tanpa harus melakukan percobaan baru.
  10. Abstraksi; yaitu kemampuan siswa untuk menggambarkan hal-hal yang abstrak ke dalam bentuk nyata.
(Tim Penulis Pekerti Bidang MIPA, 2001: 1)
Pembelajaran kimia melalui pendekatan CEP juga memberi peluang siswa untuk dapat menyatakan dan melakukan sesuatu. Jika pembelajaran dengan pendekatan CEP ini diaplikasikan maka siswa dapat mengingat lebih banyak konsep atau proses kimia yang dipelajari.
Download PDF

8 comments

Lompat ke formulir komentar

  1. Anonymous

    bg bisa ngk pendekatan CEP digunakan untuk penelitian pelajaran fisika

    1. Pengetahuan adalah Ilmu

      Bisa saja dikembangkang pada semua mapel. Hanya sy baru mencoba pada kimia dan biologi.

  2. LUTFI AHYAR

    Mau tanya referensi yang berkaitan dengna CEP buku apa saja ya…

    1. Kang Rohma Rohmadi
      Kang Rohma Rohmadi

      Silakan dicari banyak jurnalnya

  3. ulsyah

    assalamualaikum, pak boleh minta tolong untuk dijelaskan bagaimana rincian tahap dari pembelajaran yang menggunakan pendektan chemo entrepreneurship ini.

    1. Kang Rohma Rohmadi
      Kang Rohma Rohmadi

      wassalaamu’alaikum, salam kenal terima kasih telah mampir. untuk tahapan disesuaikan dengan metode/model pembelajaran yang digunakan. intinya dalam pendekatan CEP ini dilihat pada produk akhir yang mampu digunakan untuk entrepreneurship

  4. velda

    assalamualaikum maaf mau tanya boleh saya minta link dari referensi yang anda gunakan khususnya referensi dari bapak supartono untuk saya gunakan diskripsi saya. terima kasih. wassalamualaikum wr.wb

    1. Kang Rohma Rohmadi
      Kang Rohma Rohmadi

      Wassalaamu’alaikum. terima kasih telah berkunjung, mungkin bisa Anda cek di google scholar Prof Dr. Supartono untuk referensi tulisan beliau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Translate »