Pencemaran Lingkungan

Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia /oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Pencemaran dapat timbul sebagai akibat kegiatan manusia ataupun disebabkan oleh alam (misal gunung meletus, gas beracun). Karena kegiatan manusia, pencermaran lingkungan dapat terjadi. Pencemaran lingkungan tersebut tidak dapat dihindari. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi pencemaran, mengendalikan pencemaran, dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya agar tidak mencemari lingkngan.

Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran di sebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara bermanfaat bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat memberikan efek merusak. Suatu zat dapat disebut polutan apabila :

  • Jumlahnya melebihi jumlah normal.
  • Berada pada waktu yang tidak tepat.
  • Berada di tempat yang tidak tepat.

Sifat polutan adalah :

  • Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi.
  • Merusak dalam waktu lama.

Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.

Pencemaran dapat terjadi secara alami maupun akibat tindakan manusia. Dalam perspektif biofisik, pencemaran diartikan sebagai masuknya aliran residural (residural flow) yang diakibatkan oleh perilaku manusia kedalam sistem lingkungan.

Proses produksi dan konsumsi tidak hanya menghasilkan keuntungan dan kepuasan kepada pengguna, namun juga menghasilkan residu atau limbah yang menyebabkan terjadinya eksternalitas negatif. Bentuk limbah dapat dikelompokkan menjadi limbah domestik, limbah industri, pertanian, sedimen, polusi laut dan pembangkit nuklir. Pencemaran dapat dibedakan menjadi pencemaran tanah, air, udara.

            Seiring dengan semakin besarnya populasi manusia dan semakin banyaknya kebutuhan manusia, pencemaran semakin besar pula. Pencemaran tidak dipandang dari satu individu, melainkan dari populasi manusia. Semakin besar populasinya, semakin besar pula pencemarannya. Misalnya jika didalam suatu ekosistem sungai hanya seorang yang buang air, sungai tersebut masih dapat “membersihkan diri”. Tetapi jika yang buang air kedalam ekosistem sungai 10.000 orang, maka sengai tersebut sudah tidak mampu lagi menetralkan bahan pencemar. Dengan demikian air sungai menjadi tercemar.

  • Pencemaran Tanah

Tanah menjadi faktor penting bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Indonesia memiliki hutan tropis yang merupakan sumber organik utama yang penting untuk kesuburan tanah. Kesuburan tanah dapat hilang karena menipisnya nutrisi tanaman yang mempengaruhi produksi pertanian serta kapasitas air tanah. Kegiatan manusia seperti penebangan hutan dan penggundulan tanah dapat mempercepat erosi atau karena curah hujan yang tinggi yang mempengaruhi fisik, kimia dan biologi tanah.

Pencemaran tanah adalah masuknya polutan atau bahan pencemar berupa bahan air atau padat ke suatu areal tanah. Pencemaran tanah dapat terjadi secara langsung karena penggunaan pupuk secara berlebihan, pemberian pestisida atau insektisida, sampah radioaktif yang sangat berbahaya karena mempunyai urai tertentu dan dapat mempengaruhi genetis sel organisme yang terkena dan pembuangan limbah yang tidak dapat diuraikan seperti plastik (sampah anorganik). Selain itu dapat juga melalui air yang mengandung bahan polutan dan melalui udara. Air yang mengandung polutan dapat mengubah susunan kimia tanah sehingga mengganggu kelangsungan hidup mikroorganisme (pengurai), hewan dan tumbuhan. Hal ini akan mengganggu atau memutus jaring-jaring makanan.

Pencemaran tanah dapat membunuh mikroorganisme (pengurai), hal ini akan mengganggu atau memutuskan jaring-jaring makanan. Bahan pencemar mengandung logam berat (misal materai bekas, merkuri) hanya jika dibuang kelingkungan dapat meresap kedalam tanah dan akhirnya mencemari tanah.

Logam berat (merkuri, kadmium, litium) dapat merusak susunan saraf dan menyebabkan cacat pada keturunan organisme.

Bahan pencemar (polutan) dapat digolongkan menjadi :

  • Bahan pencemar fisik

Bahan– bahan yang termasuk bahan pencemar fisik adalah barang-barang bekas baik berupa zat padat maupun zat cair yang sukar atau tidak dapat dimusnahkan oleh bakteri pengurai, sehingga bila tidak diolah menjadi barang yang akan menumpuk memenuhi lingkungan, mengganggu dan merusak pemandangan yang selanjutnya mengancam kesejahteraan hidup. Pengaruh lebih luasnya akan merusak biota yang ada dilingkungan. Contoh bahan pencemar fisik yaitu munyak tanah, besi rongsokan, kertas bekas, plastik bekas, kaleng bekas dan perabot rumah tangga bekas.

  • Bahan pencemar biologis

Merupakan organsime yang dapat merusak atau mengganggu kelestarian lingkungan. Bahan pencemar biologi antara lain sampah organik, virus, bakteri patogen, hama tanaman dan jamur.

  •  Bahan pencemar kimiawi

Bahan pencemar kimiawi yaitu zat kimia yang apabila jumlahnya melebihi nilai ambang batas dapat menyebabkan terjadinya pencemaran. Bahan pencemar kimiawi dapat dikelompokkan menjadi (1) bahan pencemar kimiawi jenis gas yaitu CO2, CO, metana, etana, ozon, NO dan NO2, (2) bahan pencemar kimiawi jenis sintetis yaitu deterjen, pupuk organik, pestisida, herbisida, zat pewarna, cat dan plastik (3) bahan pencemar kimiawi jenis logam berat yaitu As, Pb, Hg, Cd, Ni, Cr, Se. Dari ketiga jenis pencemar kimiawi tersebut semuanya dapat menurunkan kesejahteraan lingkungan.

Cara menanggulangi pencemaran tanah ialah memilah sampah yang termasuk sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat didaur ulang menjadi kompos, sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali dan melakukan reboisasi pada hutan.

Membuang sampah hendaknya ditempat yang disediakan, jangan membuang sampah disembarang tempat. Sampah juga menyebabkan banjir jika dibuang disungai dan saluran-saluran air, misal selokan atau parit.

Kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah dikenal dengan remediasi. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui:

  • Jenis pencemar (organik atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
  • Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
  • Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
  • Jenis tanah,
  • Kondisi tanah (basah, kering),
  • Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
  • Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :

  1. Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien,
  2. Pengaturan kondisi redoks, optimasi ph, dsb
  3. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki
  4. Kemampuan biotransformasi khusus

Penerapan immobilized enzim

Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

Proses bioremediasi harus memperhatikan temperatur tanah, ketersediaan air, nutrien (n, p, k), perbandingan C : N kurang dari 30:1, dan ketersediaan oksigen.

  • Pencemaran Air

Air merupakan sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan menusia, baik untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk kepentingan lain. Namun air bersih semakin sedikit persediaannya karena banyak sumber air yang tercemar, salah satu sebab terjadinya pencemaran air adalah aktivitas produksi dan konsumsi manusia yang sering membuang limbah kedalam saluran air.

Pencemaran air adalah masuknya bahan pencemar kedalam lingkungan air. Air tercemar apabila air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. Keadaan normal air tergantung faktor penentu yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air.

Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui :

  1. Adanya perubahan suhu air

Oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang secara lambat terdifusi kedalam air, makin tinggi kenaikan suhuh air makin sedikit oksigen yang terlarut didalamnya.

  1. Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen

Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5 – 7,5. Air yang mempunyai pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat asam sedangkan air yang mempunyai pH lebih besar dari normal akan bersifat basa.

  1. Adanya perubahan warna, bau dan rasa air

Bahan buangan dan air limbah yang berupa bahan organic maupun non organic seringkali dapat larut dalam air, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan warna air. Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah atau dapat pula berasal dari degradasi bahan buangan oleh mikroba. Mikroba didalam air akan mengubah bahan buangan organik, terutama gugus protein secara degradasi menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau.

Apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut) berarti telah terjadi pelarutan sejenis garam-garaman. Air yang mempunyai rasa biasanya berasal dari garam yang terlarut, karena adanya pelarutan ion-ion logam yang dapat mengubah konsentrasi ion hydrogen dalam air. Adanya rasa pada air diikuti dengan perubahan pH air.

  1. Timbulnya endapan, koloidal dan bahan terlarut

Bahan buangan yang berbentuk padat bila tidak terlarut sempurna akan mengendap didasar sungai dan yang terlarut akan menjadi koloidal. Endapan dan koloidal yang melayang didalam air akan menghalangi masuknya sinar matahari kedalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk proses fotosintesis. Karena tidak ada sinar matahari maka proses fotosintesis tidak dapat berlangsung. Akibatnya, kehidupan organisme terganggu.

  1. Adanya mikro organisme

Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan yang masuk ke air lingkungan, baik sungai, danau maupun laut. Bila bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, berarti mikroorgansime akan ikut berkembang biak. Pada perkembangbiakan mikroorgansime ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembang biak pula.

  1. Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan

Pembakaran batu bara adalah salah satu sumber yang dapat menaikkan radioaktivitas lingkungan. Zat radioaktif dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik melalui efek langsung maupun efek tertunda.

Komponen bahan pencemar dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Bahan buangan padat
  2. Bahan buangan organik
  3. Bahan buangan anorganik
  4. Bahan buangan olahan dari makanan
  5. Bahan buangan cairan berminyak
  6. Bahan buangan zat kimia
  7. Bahan buangan berupa panas

Dampak dari pencemaran air adalah punahnya mikroorganisme dalam ekosistem air dan hewan air yang tercemar dapat meracuni orang yang memakannya.

Berdasarkan jenis kegiatannya maka sumber pencemaran air dibedakan menjadi:

  1. Effluent industri pengolahan
    Effluent adalah pencurahan limbah cair yang masuk kedalam air bersumber dari pembuangan sisa produksi, lahan pertanian, peternakan dan kegiatan domestik.
  2. Sumber domestik /buangan rumah tangga

Yang dimaksud dengan buangan rumah tangga adalah buangan yang berasal bukan dari industri melainkan berasal dari rumah tangga, kantor, hotel, restoran, tempat ibadah, tempat hiburan, pasar, pertokoan dan rumah sakit.

Sumber Pencemaran Air

Banyak penyebab pencemaran air tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi effluent yang keluar dari industri, TPA (tempat Pembuangan Akhir Sampah), dan sebagainya. Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan.

Pencemar air dapat diklasifikasikan sebagai organik, anorganik, radioaktif, dan asam/basa. Saat ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau air tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs (polychlorinated phenols), adalah salah satu contohnya. Pestisida dgunakan di pertanian, kehutanan dan rumah tangga. PCBs, walaupun telah jarang digunakan di alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas sebagai zat pembersih di rumah tangga.

Dampak Pencemaran Air

Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya.

Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian) telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan). Ledakan pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang.  Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas bakteri menurun.

Langkah Penyelesaian

Dalam keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle), mendaur pakai (reuse).

Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi “masyarakat kimia”, yang menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya.

Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar. Walaupun demikian, langkah pencegahan tentunya lebih efektif dan bijaksana.

  • Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya susunan udara oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.

Terjadinya pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terkandung dalam udara (perubahan dari komposisi tersebut di atas) yang secara langsung atau tidak mempengaruhi kesehatan, keamanan dan kenyamanan manusia.

Pencemaran udara diakibatkan oleh gas yang dikeluarkan oleh industri, kendaraan bermotor dan perumahan. Semuanya berupa gas hasil pembakaran fosil (minyak bumi, batu bara) dan penggunaan gas berbahaya, misal gas CFC (khloro fluorokarbon).

Udara merupakan campuran dari beberapa macam gas yang perbandingannya tidak tetap, tergantung pada suhu udara, tekanan udara dan lingkungan sekitarnya. Susunan komposisi udara bersih dan kering :

Nitrogen                      (N 2)    : 78,09 % volume

Oksigen                       (O2)     : 21,94 %

Argon                          (Ar)     : 0,93 %

Karbondioksida           (CO2)  : 0,032 %

Gas- gas lain yang terdapat dalam udara antara lain gas-gas mulia, nitrogen oksida, hidrogen, metana, belerang dioksida, amonia dll.

Pembangunan yang berkembang pesat dewasa ini khususnya dalam industri dan teknologi serta meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak) menyebabkan udara yang kita hirup disekitar kita menjadi tercemar oleh gas- gas buangan hasil pembakaran.

            Hasil pembuangan fosil (munyak bumi, batu bara) berupa gas buangan dalam bentuk CO2 dan belerang oksida (SO2). Meningkatkan CO2 di udara dapat menyebabkan efek rumah kaca, meningkatnyan belerang oksida dapat menimbulkan hujan asam.

Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam :

  1. faktor internal (secara alamiah)
  2. Debu yang berterbangan karena tiupan angin
  3. Debu yang dikelurkan dari letusan gunung berapi seperti gas-gas vulkanik.
  4. Proses pembusukan sampah organik
  5. faktor eksternal (karena ulah manusia)
    1. Hasil pembakaran bahan bakar fosil
    2. Debu / serbuk dari kegiatan industri
    3. Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara

Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran dari satu atau lebih bahan pencemar, baik berupa padatan, cairan atau gas yang masuk terdispersi ke udara dan kemudian menyebar kelingkungan sekitarnya.

Udara yang kita hirup merupakan gas yang tidak tampak, tidak berbau tidak berwarna dan tidak berasa. Udara yang tercemar dapat merusak lingkungan dan kehidupan manusia.

Jenis Pencemar Udara dapat diklasifikasikan menjadi

  1. Pencemar Primer (Origin), yaitu bahan pencemar yang langsung dikeluarkan ke udara

Jenis pencemar primer :

  • Gas CO2

Akibat pembakaran bahan bakar minyak, batu bara, bahan bakar solar, proses industri kimia, logam dan mineral

  • Gas NOx

Pembakaran bahan bakar, proses industri dan pembakaran kendaraan bermotor

  • Gas Ammonia

Hasil pembakaran bahan bakar dan proses industri kimia

  • Gas Clorine dan NKI

Proses Industri Tekstil (Cotton), Bleaching dan Refunery Minyak

  • Senyawaan Flourida

Dari proses refunery minyak, industri pupuk, industri aluminium, pabrik baja

  • Gas Hidro karbon (HC)

Pembakaran yang tidak sempurna, bahan bakar bensin dan solar, turbin gas, pesawat terbang dan penggunaan pelarut organik

  • Partikel

Senyawaan berbentuk padat dengan diameter 0,0002 mikron dan ukurannya lebih kecil dari 500 mikron

  1. Pencemar Sekunder,

Adalah pencemaran yang terbentuk di udara sebagai akibat reaksi dari senyawa di udara dan umumnya pencemaran sekunder merupakan hasil dari reaksi Photokimia dengan sinar matahari.

Contohnya :

Atom oksigen yang dikeluarkan dari senyawaan Nox akan bereaksi dengan O2 di udara membentuk senyawa Ozone (O3).

Dampak pencemaran udara pada kesehatan masyarakat secara umum:

  • Peningkatan Morbiditas

Beberapa bahan pencemaran dapat melemahkan sistem daya tahan tubuh, sehingga memudahkan timbulnya berbagai macam penyakit, khususnya penyakit infeksi

  • Penyakit tersembunyi

Tidak jelas, tidak spesifik antara sakit dan tidak sakit sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta menyebabkan tubuh imun. Pencemaran debu dikaitkan dengan peningkatan mortalitas

  • Mengganggu fungsi fisiologi organ tubuh seperti, paru-paru dan syaraf

Dampak Pencemaran Udara:

  • Dampak terhadap tanaman

Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

  • Hujan asam

pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:

  • Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
  • Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
  • Merusak tanaman
  • Mempengaruhi kualitas air permukaan
  • Efek rumah kaca

Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global adalah:

  • Pencairan es di kutub
  • Perubahan iklim regional dan global
  • Perubahan siklus hidup flora dan fauna
  • Kerusakan lapisan ozon

Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasiultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.

Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahari tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

Sumber Tetap (Fixed Sources)

Terdapat 2 (dua) jenis pendekatan, yaitu:

  1. Kontrol melalui sifat pengenceran di udara (Dispersion)

Dengan menggunakan Cerobong (Smoke Stack), dengan ketinggiannya diharapkan adanya pengenceran udara atau pengaruh turbulensi udara dapat mengencerkan bahan pencemar sehingga bila turun ke lapisan G-sound level sudah tidak berbahaya lagi. Tinggi cerobong yang efektif adalah 2,5 kali dari bangunan tertinggi yang ada di sekitarnya. Tinggi yang efektif juga akan tergantung dari arah dan kecepatan angin, faktor pengenceran dan temperatur.

  1. Kontrol pada sumbu dengan mengurangi bahan pencemaran yang dikeluarkan

Pengurangan polutan ke udara dengan proses penghancuran (destroying), perubahan (altering) dan penangkapan

Upaya-upaya alternatif antara lain:

  1. Relokasi sumber pencemaran
  2. Pemberhentian sementara sumber pencemaran
  3. Penggantian bahan bakar akhir sumber energi
  4. Perubahan proses
  5. Pelaksanaan operasi/proses sesuai dengan SOP (Standard Operation Procedure)
  6. Penggunaan teknologi penanggulangan pencemaran udara
  7. Pemasangan alat pengendali pencemaran
  8. Netralisasi pencemaran
  9. Daur ulang limbah
  10. Pencegahan Limbah, penutupan bocoran, pencegahan tumpukan limbah

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Translate »